Belajar dari Kesuksesan Jan Koum, Pencipta Whatsapp

Foto: Ilustrasi WhatsApp: KiagoosFoto: Ilustrasi WhatsApp: Kiagoos

Jakarta - Kisah perihal Jan Koum, pencipta WhatsApp yang menjual aplikasinya ke Facebook seharga USD 19 miliar, mungkin mampu dijadikan pelajaran untuk memulai kesuksesan.

Jan Koum membuatkan minat pada pemrograman komputer di usia muda. Dia berguru sendiri bagaimana menulis arahan tanpa sekolah formal. Dia kemudian bekerja di Yahoo Inc. sebagai insinyur IT.

Selama bertugas di Yahoo, ia berteman dengan Brian Acton. Persahabatannya dengan Brian Acton inilah yang mengarah pada pendirian WhatsApp. Dan sisanya yang mereka katakan ialah sejarah.

Seperti detikINET kutip dari kolom Tung Desem Waringin, berikut ialah delapan pelajaran sukses dari Jan Koum untuk memulai usaha:

1. Latar belakang bukanlah alasan untuk kegagalan dalam hidup

Jan Koum melaksanakan pekerjaan bernafsu menyerupai membersihkan dan mengepel toko kelontong sementara ibunya mengambil pekerjaan menjaga anak. Pada satu titik dalam hidupnya, ia dan ibunya bergantung pada tunjangan dari pemerintah.

(Dan menandatangani perjanjian dengan Facebook di pintu kantor pelayanan sosial daerah ia dan ibunya biasa mengantrieuntuk mengumpulkan kupon makanan.)

2. Sekolah penting, tapi..

"Dia masih di San Jose State University ketika dua ahad menjalani pekerjaannya di Yahoo, salah satu server perusahaan tersebut bangkrut. Pembuat Yahoo David Filo menghubungi ponselnya untuk meminta bantuan.

"Aku di kelas," jawab Koum diam-diam. "Apa yang kau lakukan di kelas?" Kata Filo. "Pergilah ke kantor." Filo memiliki tim insinyur server kecil dan membutuhkan semua derma yang mampu ia dapatkan.

"Aku juga benci sekolah," kata Koum. Dia keluar.

3. Detail masalah

"Pada hari kelahirannya, 24 Februari 2009, ia memasukkan WhatsApp Inc. di California. "Dia sangat teliti," kata Fishman. Aplikasi itu bahkan belum ditulis.

Koum menghabiskan waktu berhari-hari untuk membuat arahan backend untuk menyelaraskan aplikasinya dengan nomor telepon apa pun di dunia, dengan mempelajari entri Wikipedia yang mencantumkan daftar panggilan internasional ia akan menghabiskan banyak bulan yang menyebalkan untuk memperbarui ratusan nuansa regionalnya."

4. Untuk berpikir serius, ambil pulpen dan kertasnya

"Awal WhatsApp terus mati tiba-tiba atau nge-hang, dan dikala Fishman memasangnya di teleponnya, hanya ada sedikit dari ratusan nomor di buku alamatnya-kebanyakan sahabat Rusia lokal juga men-download-nya.

Fishman mengatasi dilema itu dan Koum mencatat di salah satu notebook masa Soviet yang ia bawa bertahun-tahun sebelumnya dan diselamatkan untuk proyek-proyek penting."

5. Jadilah pelajar seumur hidup

Jan Koum sangat bersemangat untuk belajar. Ketika hingga di California, ia tertarik dengan teknologi informasi sebagai hasilnya, ia mulai berguru dan mempraktikkan apa yang ia pelajari perihal pemrograman perangkat lunak.

Dia mempelajari dan mempraktikkan aktivitas perangkat lunak hingga pada titik itu ia menerima kepercayaan diri untuk mulai menulis arahan perangkat lunak.

Dia menjadi sangat andal dalam menulis arahan yang Yahoo Inc. mempekerjakannya sebagai insinyur infrastruktur TI. Ia kemudian menerima lebih banyak pengalaman dalam pemrograman komputer sehingga ia mampu memulai usahanya sendiri.

6. Jangan biarkan kekecewaan membanjiri Anda

Jan ditolak ditolak kerja oleh Facebook. Dia menyebutkan "Facebook menolak saya. Ini ialah kesempatan besar untuk terhubung dengan beberapa orang fantastis. Menantikan petualangan selanjutnya."

7. Jadilah gairah bukan uang

Jan ingin membuat produk yang mampu memenuhi kebutuhan, dan dikala produk ini memenuhi kebutuhan, uang datang. Hari ini ia seorang miliarder. Uang bukanlah motivasi utamanya. Dia bilang ia hanya ingin membangun sebuah produk hebat.

"Saya memulai WhatsApp, untuk membangun sebuah produk. Saya tidak ingin membuat perusahaan di sekitarnya, tujuannya bukan untuk menerima penghasilan. Kami ingin menghabiskan waktu membangun layanan yang orang ingin gunakan sebab berhasil dan menghemat uang dan membuat hidup mereka lebih baik dengan cara yang kecil."

Dia men-tweet pada tahun 2012 bahwa ia bukan seorang pengusaha.

8. Produk yang mengagumkan akan mengiklankan dirinya sendiri

Tahukah Anda berapa banyak yang dibayar WhatsApp untuk memasarkan layanan mereka? Nol! WhatsApp memiliki kebijakan 'tidak ada iklan' Inilah yang dikatakan WhatsApp perihal periklanan.

"Tidak ada yang berdiri dengan besar hati melihat lebih banyak iklan, tidak ada yang mau tidur memikirkan iklan yang akan mereka lihat besok. Kami tahu orang-orang tertidur dengan besar hati perihal siapa mereka mengobrol dengan hari itu (dan kecewa dengan siapa mereka tidak melakukannya). Kami ingin WhatsApp menjadi produk yang membuat Anda tetap terjaga dan yang Anda capai di pagi hari. Tidak ada yang melompat dari tidur siang dan berlari melihat iklan."

Belajar dari Kesuksesan Jan Koum, Pencipta WhatsappFoto: Infografis: Kiagoos

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel