google-site-verification=UES8Z0aRJbtE1Gb4ZyHBN69EWU5404X-VqbouzRkOVI Miris pada Hari Bumi, Alasan Pengrusakan hutan Pangrango, Sepele - PUSATRIK.COM

Miris pada Hari Bumi, Alasan Pengrusakan hutan Pangrango, Sepele

Cianjur -Penggiat lingkungan menyoroti kerusakan hutan di area Gunung Masigit Cianjur yang masuk daerah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kerusakan hutan itu diduga menjadi pemicu peristiwa banjir yang melanda di sejumlah titik Cianjur. Fenomena alam yang tidak biasa ini ternyata diakibatkan oleh kerusakan hutan Pangrango dengan alasan yang sangat sepele yakni memburu cacing sonari saja.

Dikutip dari detik.com diungkapkan Ketua Yayasan Surya Kadaka Indonesia (SKI) Sabang Sirait. Minggu (22/4/2018). Dia menegaskan pada peringatan Hari Bumi yang jatuh pada hari ini harusnya ada gerakan penanganan kerusakan hutan.

"Kasus ini bersama-sama mencuat ketika kasus Didin 'sonari' mencuat kepermukaan. Saat itu banyak pihak yang kaget dengan temuan kami perihal adanya kerusakan lahan puluhan hektare di zona inti TNGGP. Sekarang pada Hari Bumi tidak ada gerakan positif dari pihak yang seharusnya bergerak melaksanakan rehabilitasi," ujar Sabang di Posko Yayasan SKI, Cibodas, Kabupaten Cianjur.

Sabang menjelaskan kasus Didin telah berakhir. Tuduhan dan tuntutan Didin sebagai pelaku perusakan hutan tidak terbukti. Dia menyesalkan selesainya kasus itu tidak berbuah pada upaya rehabilitasi zona inti yang ketika ini masih rusak.

"Makanya jangan heran jika sungai-sungai di Cianjur meluap. Ya alasannya ialah fungsi hutan sebagai penahan resapan air sudah tidak berfungsi dengan baik, ada dua hulu sungai utama yaitu Sarongge dan Cikundul," ujarnya.

Sabang menyebutkan kerusakan parah terjadi di daerah Gunung Masigit. Saat itu, berdasarkan dia, pihak Balai Besar TNGGP menganggap kerusakan itu akhir ulah Didin yang mencari cacing kalung atau sonari.

"Kerusakan itu akhir pencari cacing kalung, ukurannya besar-besar dan hidup di bawah tanah. Cacing itu panjangnya antara 80 sentimeter hingga 1 meter, para pemburu ini menggali semoga cacing tidak putus. Nah penggalian inilah yang bermasalah dan merusak lingkungan," tutur Sabang.


Hari Bumi, Penggiat Lingkungan Soroti Kerusakan Hutan Pangrango
Selain menggali tanah di area zona inti, para pemburu dianggap telah merusak batang dan ranting pohon. Ranting itu dipakai sebagai suluh perapian.

"Mereka buat bedeng-bedeng, bermukim selama tiga hari. Agar cacing tidak anyir mereka asapi, materi bakarnya dari batang pohon di area hutan," ucapnya.

Sabang berharap pihak Balai TNGGP segera melaksanakan penghijauan di zona inti. "Oke persoalan pencegahan oleh pihak balai bobol, kini mereka harusnya segera melaksanakan penghijauan kembali hutan yang rusak," kata Sabang.


Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel