Bolehkah Berpuasa Setelah Nisfu Sya'ban? Begini Rinciannya

Bulan Ramadhan sudah hampir datang dan mendekat, tentunya sangat dirindukan oleh orang yang beriman. Tetapi ternyata banyak orang terutama ibu ibu yang belum tuntas membayar kewajiban berpuasa padahal sudah masuk bulan Sya'ban bolehkah berpuasa setelah nisfu sya'ban atau pertengahan bulan sya'ban?

Ternyata ada satu hadits Nabi yang melarang berpuasa setelah Nisfu Syakban, walaupun ada hadits yang menjelaskan bahwa Nabi paling banyak berpuasa adalah pada bulan Sya'ban. Tentunya kedua hadits ini tidaklah bertentangan tetapi malah saling menjelaskan. Selama 15 Hari pertama dari bulan Sya'ban Rasulullah SAW mengisi dengan berpuasa dan pada setelah tanggal 15 setelah itu barulah Rasulullah tidak melaksanakan puasa.

Bolehkah Berpuasa Setelah Nisfu Sya'ban? Begini Rinciannya
Ulama juga berbeda pendapat tentang berpuasa setelah pertengahan Nisfu Sya'ban dan dalam Riwayat Al Bukhari Rasulullah melarang berpuasa dua atau tiga hari sebelum Ramadhan.

Berikut ini adalah penjelasan dari  Syekh Wahbab al-Zuhaili dalam Fiqhul Islami wa Adillatuhu:

قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك، إلا لورد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالا ثنين فصادف ما بعد النصف أو نذر مستقر في ذمته أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله ولو بيوم النص. ودليلهم حديث: إذا انتصف شعبان فلا تصوموا، ولم يأخذبه الحنابلة وغيرهم لضعف الحديث في رأي أحمد

“Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, puasa setelah nisfu Sya’ban diharamkan karena termasuk hari syak(meragukan), kecuali ada (alasan) sebab yang lain, seperti orang yang sudah terbiasa melakukan puasa sepanjang waktu, puasa daud, puasa senin-kamis, puasa nadzar, puasa qadha’, baik wajib ataupun sunnah, puasa membayar kafarah, dan melakukan puasa setelah nisfu Sya’ban dengan syarat sudah puasa sebelumnya, walaupun dimulai satu hari nisfu Sya’ban. Dalilnya adalah hadis, ‘Apabila telah melewati nisfu Sya’ban janganlah kalian puasa’. Hadis ini tidak dipakai oleh ulama mazhab Hambali dan selainnya karena menurut Imam Ahmad ibn Hambal hadits ini adalah hadits yang dhaif/lemah.”

Jadi berpuasa setelah Nisfu Sya'ban bagi kamu yang memegang Madzhab Syafii adalah tidak boleh jika tidak ada sebab atau alasan tertentu. Namun bagi Madzhab selain Syafiiyah, yaitu Maliki, Hanafi dan Hambali memperbolehkan karena hadits dianggap hadits yang lemah. Jangan mencampur aduk antar Madzhab, kalau kamu bermadzhab Syafii maka kerjakan memakai cara Syafiiyah. Dan jangan beribadah hanya berdasarkan hadits tertentu saja tanpa mengikuti madzhab karena Ulama sepakat mengikuti hanya 4 Madzhab saja dalam Fiqh (beribadah), jadi kalau kamu mencampur adukkan madzhab dan merasa bisa menentukan hukum sendiri padahal pengetahuanmu tentang agama tidaklah seberapa bisa jadi ada yang salah dalam dirimu.

Alasan pelarangan berpuasa Nisfu Sya'ban bagi Syafiiyah

Sudah mendekati hari Syak (Ragu)

Setelah Syaban adalah bulan Ramadhan, dan tentu ada hari yang meragukan apakah hari itu sudah masuk bulan atau belum. Paling tidak 2 hari karena penentuan awal bulan adalah dengan melihat hilal, tidak cukup dengan menghitung saja. Karena dalam perintah Nabi SAW adalah melihat hilal terlebih dahulu, baru setelah itu baru dihitung. Dikhawatirkan orang berniat berpuasa Sya'ban, tetapi ternyata sudah masuk bulan Ramadhan tanpa diniati untuk berpuasa bulan Ramadhan, tentu hal ini tidak sah. Karena Amal itu tergantung dari niatnya.

Persiapan untuk menghadapi bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang berat, butuh tenaga dan kesiapan untuk menghadapinya. Persiapan waktu inilah yang dibutuhkan agar bisa menjalankan ibadah sebaik mungkin di bulan Ramadhan. Oleh karena itu banyak ulama yang melarang berpuasa jika sudah mendekati bulan Ramadhan.

Diperbolehkan berpuasa untuk orang yang memiliki alasan.

Walaupun ada pelarangan dari Ulama madzhab Syafii, tetapi mereka juga memperbolehkan untuk orang yang terbiasa mengerjakan puasa sunnah. Misalnya puasa senin kamis, puasa Daud, Puasa ayyamul bidh, apalagi puasa wajib seperti puasa qadha,puasa nadzar.

Pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan:


وقال جمهور العلماء يجوز الصوم تطوعا بعد النصف من شعبان وضعفوا الحديث الوارد فيه وقال أحمد وبن معين إنه منكر

“Mayoritas ulama memperbolehkan puasa sunnah setelah nishfu Sya’ban dan mereka menganggap lemah hadis yang melarang berpuasa setelah nishfu Syaban. Imam Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan hadis tersebut munkar (tidak diakui)”

Jadi untuk kamu yang ingin berpuasa setelah Nisfu Sya'ban jika mengikuti madzhab Syafii adalah dengan berpuasa sehari sebelumnya yakni pada hari Nisfu Sya'bannya jika memang kamu tidak terbiasa berpuasa dan tidak punya alasan apapun.

Semoga kita dipermudah untuk mengerjakan kebaikan di bulan bulan yang dirindukan yakni Ramadhan. Semoga Nafas kita bisa sampai menikmati sempurnanya bulan Ramadhan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel