Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya'ban



Salah satu kegembiraan setelah sampai pada bulan Rajab yaitu memasuki bulan Sya'ban. Sebab setelah Sya'ban hadir bulan yang paling dinantikan yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah dan kesenangan, ngga hanya bagi umat Islam, namun juga non muslim ikut merasakan berkah Ramadhan. Yup peristiwa yang paling berkah di Bulan Sya'ban yaitu malam Nisfu Sya'ban.Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya'banSya’ban berarti bulan yang diisi berkah dan kebaikan. Di bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan pengampunan seluas-luasnya. Oleh karena itu, disarankan untuk memaksimalkan ibadah sunah misalnya membaca istighfar. Sudah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sebuah hadits menerangkan bahwa Nabi SAW lebih sering puasa sunah pada bulan Sya’ban dibandingkan pada bulan lainnya, (HR Al-Bukhari).

Baca : Hukum Berpuasa Setelah Nisfu Sya'ban

Tak hanya itu, beribadah malam sya’ban juga tentu dianjurkan khususnya malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban). Cara mengetahui nisfu sya'ban adalah kalau waktu siang hari tanggal 14 bulan Sya'ban jadi mulai maghrib sudah masuk malam nisfu sya'ban. Karena penghitungan hijriah diawali dari terlihatnya bulan.
Tiga Amalan Utama pada Malam Nisfu Sya'ban
Maksud menghidupkan malam Nisfu Sya’ban adalah memperbanyak ibadah dan melakukan perbuatan baik pada malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Allohu Yarham menjelaskan bahwa  ada banyak anugrah di malam nisfu Sya’ban;diantaranya Allah SWT akan mengampuni dosa orang yang memohon ampunan pada malam tersebut, mengasihi orang yang memohon kasih, menjawab do’a orang yang memohon, memberi jalan keluar penderitaan orang susah, dan melepaskan sekelompok orang dari neraka.

Paling tidak terdapat 3 ibadah yang bisa dikerjakan di malam tengah Sya’ban. 3 amalan ini diambil dari kitab Madza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Mulai dari, meningkatkan kuantitas doa. Anjuran ini didasarkan dengan hadits yang diriwayatkan Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

ينزل الله إلى السماء الدنيا ليلة النصف من شعبان فيغفر لكل شيء، إلا لرجل مشرك أو رجل في قلبه شحناء

Maksudnya, “(Rahmat) Allah SWT turun ke langit bumi pada malam nisfu Sya’ban. Allah akan memberikan ampunan semua dosa kecuali untuk orang yang musyrik dan orang yang di dalam hatinya tersimpan (kemunafikan),” (HR Al-Baihaqi).

Yang kedua, membaca syahadatain sesuai kemampuan. Syadatain adalah salah satu doa mulia. Syadatain dapat dilantunkan setiap waktu dan dimanapun apa lagi di malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan,

وينبغي للمسلم أن يغتنم الأوقات المباركة والأزمنة الفاضلة، وخصوصا شهر شعبان وليلة النصف منه، بالاستكثار فيها من الاشتغال بكلمة الشهادة "لا إله إلا الله محمد رسول الله".

Artinya, “Sebaiknya seorang muslim mendapatkan kemuliaan dan keutamaan dengan memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, La Ilaha Illallah Muhammadur Rasululullah, terutama bulan Sya’ban dan malam pertengahannya.”

Baca : Kenapa Bahasa Arab Menjadi Bahasa AL Quran

Yang ketiga, memperbanyak istighfar. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan salah. Mengisi hari harinya bergelimang dosa. Namun walaupun manusia berdosa, Allah SWT senantiasa mempermudah pintu ampunan kepada siapa pun yang mencarinya. Sebab, meminta ampunan (istighfar) sangat diajarkan nabi apalagi di malam nisfu Sya’ban. Sayyid Muhammad bin Alawi menerangkan,

الاستغفار من أعظم وأولى ما ينبغي على المسلم الحريص أن يشتغل به في الأزمنة الفاضلة التي منها: شعبان وليلة النصف، وهو من أسباب تيسير الرزق، ودلت على فضله نصوص الكتاب، وأحاديث سيد الأحباب صلى الله عليه وسلم، وفيه تكفير للذنوب وتفريج للكروب، وإذهاب للهموم ودفع للغموم

Artinya, “Istighfar adalah salah satu ibadah pokok yang perlu dijaga orang Islam, terutama pada saat yang mempunyai kelebihan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya. Istighfar adalah satu jalan yang memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Di bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dicarikan jalan keluar, dan kesedihan dihilangkan dan menolak kesedihan yang akan datang.

Pada malam nisfu Sya’ban kita memohon pada Allah untuk panjang umur, rezeki berlimpah, dan keteguhan iman. Kita juga biasanya melantunkan 3 kali Surat Yasin di sela doa tersebut. Sayyid Utsman bin Yahya mengajarkan doa di bawah ini yang dibaca saat malam nisfu Sya’ban.

اللَهُمَّ يَا ذَا المَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ.

اللَهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik, yâ dzal jalâli wal ikrâm, yâ dzat thawli wal in‘âm, lâ ilâha illâ anta zhahral lâjîn wa jâral mustajîrîn wa ma’manal khâ’ifîn.

Allâhumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî, waktubnî ‘indaka sa‘îdan marzûqan muwaffaqan lil khairât. Fa innaka qulta wa qawlukal haqqu fî kitâbikal munzal ‘alâ lisâni nabiyyikal mursal, “yamhullâhu mâ yasyâ’u wa yutsbitu, wa ‘indahû ummul kitâb” wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammad wa alâ âlihî wa shahbihî wa sallama, walhamdu lillâhi rabbil ‘alamîn.

Artinya, “Duhai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.

Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata–sementara perkataan-Mu adalah benar–di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT.”

Doa ini tertulis dalam Kitab Maslakul Akhyar karya Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Yahya, (Lihat Sayid Utsman, Maslakul Akhyar, [Jakarta, Al-Aidrus: tanpa catatan tahun], halaman 78-80). Pemakaian Dhamir mufrad pada doa ini dapat dirubah menjadi dhamir jamak kalau dilantunkan berjamaah, namun jika tidak maksud caranya ikuti bacaan yang tertulis saja.

Alangkah berbahagianya kalau kita masuk orang yang berdiri untuk beribadah pada malam nisfu Sya’ban misalnya memperbanyak do’a, memperbanyak bacaan dua kalimat syahadat, istighfar, dan kalimat utama yang lain misalnya membaca Al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel